“Pendekatan ini mengintegrasikan bahasa ibu dengan bahasa nasional agar anak mampu membangun literasi dasar sekaligus memperkuat identitas budaya. Pendidikan multilingual berbasis bahasa ibu dapat mengurangi hambatan belajar, menjaga keberlanjutan budaya lokal, serta meningkatkan kemampuan literasi lintas Bahasa,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Orbastra) BRIN, Herry Yogaswara, menekankan pentingnya melihat bahasa ibu sebagai fondasi utama dalam pengembangan intelektual anak.
“Memampuan kognitif yang dibangun melalui bahasa ibu akan mendukung pembelajaran bahasa lain secara lebih efektif,” tegas Herry dalam sambutannya.
Herry juga menyoroti tantangan implementasi kebijakan bahasa di Indonesia, mulai dari keterbatasan sumber daya hingga persepsi masyarakat terhadap bahasa daerah. Oleh karena itu, ia mendorong penguatan kebijakan dan inovasi pendidikan yang lebih ramah terhadap keragaman bahasa.
Menurutnya, investasi pada bahasa ibu merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menjaga identitas budaya di tengah dinamika global. (ahmad)
