Meski Trump sempat memberikan isyarat optimisme kepada Fox News mengenai adanya perundingan, sikapnya kembali mengeras memasuki awal April. “Kita akan meledakkan seluruh negeri tersebut,” tegasnya saat diwawancarai ABC News.
Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengecam keras pernyataan Trump itu. Mereka menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan berpotensi menjadi kejahatan perang.
“Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran,” demikian pernyataan mereka.
Iran juga mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak mencegah eskalasi lebih lanjut.
“Mereka harus bertindak sekarang. Besok sudah terlambat,” sambung pernyataan tersebut.
Di sisi lain, pejabat Iran Seyyed Mehdi Tabatabaei menyatakan pembukaan Selat Hormuz hanya akan dilakukan jika AS membayar ganti rugi atas kerusakan perang melalui skema biaya transit.
Ia menepis ancaman Trump sebagai bentuk “keputusasaan dan kemarahan,” sembari memperingatkan bahwa Iran siap meningkatkan eskalasi jika fasilitas vital mereka benar-benar dihantam.

