Pihaknya juga berkomitmen memberikan pendampingan psikologis bagi korban dan keluarga yang mengalami trauma akibat insiden tersebut.
“Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis perlindungan serta dukungan yang diperlukan khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini,” paparnya.
“Mari kita bersama-sama memusatkan perhatian pada penanganan korban, doa serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Arifatul sempat mengusulkan agar posisi gerbong khusus perempuan diubah dari ujung rangkaian ke bagian tengah, dengan alasan meningkatkan perlindungan saat terjadi benturan. Namun, usulan tersebut justru memicu perdebatan di tengah masyarakat.
“Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan tapi dengan peristiwa ini kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah jadi yang laki-laki di ujung yang depan belakang itu laki-laki jadi yang perempuan di tengah,” ungkapnya. (far)
