“Tadi sebelum bertanding, pelatih berpesan agar aku bisa rileks, jadi itu yang membuat aku lebih fokus saat final tadi. Meskipun baru kali ini masuk final,
aku percaya diri buat bidik sasaran. Senang rasanya kali ini bisa membawa pulang medali emas,” cerita pemanah cilik berusia 9 tahun itu.
Kesuksesan Latisya bukan sesuatu yang datang secara instan. Di balik pencapaiannya hari ini, ada proses panjang yang penuh jatuh bangun. Pada ajang sebelumnya, ia belum mampu
melangkah jauh, namun dari situ justru tumbuh semangat baru untuk berbenah.
Sebagai orang tua sekaligus pelatih, Eko Suryadi memilih pendekatan yang bertahap danpenuh kesabaran. Ia lebih dulu menumbuhkan rasa cinta Latisya terhadap olahraga panahan sebelum berbicara soal target dan prestasi.
Latihan rutin di rumah serta keikutsertaannya dalam klub turut menjadi bagian penting dalam perkembangan kemampuannya.
“Saya tidak pernah langsung menuntut hasil. Yang saya jaga dulu adalah supaya Latisya benar-benar menikmati memanah. Kalau rasa suka itu sudah kuat, baru pelan-pelan saya arahkan ke teknik, kedisiplinan, dan bagaimana menghadapi tekanan saat bertanding. Anak
yang latihan dengan hati senang biasanya lebih tenang di lapangan, dan dari situ performanya bisa keluar dengan maksimal,” ujar Eko.
