“Kami sempat condong ke Surabaya karena akses yang lebih mudah dan kesiapan panitia lokal. Tapi ternyata, jika tetap di Jawa, pertandingan harus tanpa penonton. Itu tentu merugikan, terutama bagi suporter,” katanya.
Opsi Bali pun sempat dipertimbangkan, tetapi kembali terbentur jadwal. Hingga akhirnya, komunikasi dengan pihak Borneo FC membuka jalan untuk penggunaan stadion di Samarinda.
“Saat kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian, mereka menyatakan jika digelar di Samarinda, pertandingan bisa mendapatkan izin dengan penonton. Dari situlah keputusan ini diambil,” ungkap Tauhid.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya kekecewaan, terutama karena Persija kehilangan kesempatan bermain di kandang sendiri dan di hadapan pendukungnya.
“Kami jelas kecewa. Tidak hanya dari sisi finansial, tetapi juga karena suporter tidak bisa memberikan dukungan langsung.
Padahal sepanjang musim ini, kami berupaya menjaga kondusivitas tanpa insiden berarti,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekhawatiran aparat keamanan juga dipengaruhi situasi terkini, termasuk insiden di Bandung yang berujung penangkapan ratusan orang.
