“Bisa jadi karakter itu dipengaruhi oleh kejuruannya. Selama anak-anak tetap masuk kelas dan berprestasi, itu yang harus dilihat,” tegasnya.
Dalam dialog tersebut, guru BK akhirnya mengakui kesalahannya dan mengaku tidak menyangka tindakannya berdampak pada kondisi psikologis anak didiknya.
Sementara itu, ketika ditanya alasan menggunakan kosmetik dan mewarnai rambut, salah satu siswi menjawab singkat, Biar cantik, Pak.
Di akhir pertemuan, Dedi meminta persoalan tersebut diselesaikan melalui dialog dan pembinaan tanpa menimbulkan trauma terhadap siswa. Ia juga memastikan persoalan etik guru akan ditangani oleh pihak kepegawaian secara objektif.(Vinolla)
