“(Game keenam, set kedua) sebenarnya saya sudah leading, 40-0. Tapi, saya merasa kesulitan buat menutup game-nya. Enggak tahu juga berapa kali dapat game point. Berkali-kali kena deuce sebelum diambil. Saya mikirin game itu terus. Jadi, kalah set kedua, 4-6,” ujar Rafa.
Enggan berlarut dalam keterpurukan, Rafa bangkit pada set penentu. Dirinya bermain lepas dan mengembalikan fokusnya. Keuletannya pun menuai hasil positif, petenis binaan DETEC menang.
Senada, Gwen pun menang rubber set dalam final ideal tunggal putri. Hanya saja, ia mesti tertinggal satu set lebih dahulu dari unggulan kedua asal Tiongkok, Xinran Yan (13), 2-6, 6-2, 6-1.
“(Yan) sangat gesit, sangat lincah. Sangat berani mukulnya. Bolanya mepet-mepet ke pojok dan cepat. Sekalinya, aku kasih bola pendek, dia langsung nyerobot, ngambil. Sulit banget di awal-awal karena belum terbiasa,” tutur Gwen, siswi Life Community School, Jakarta Barat.
Untungnya, Gwen cepat belajar dari kekalahan di set pertama. Setelah bermain pasif untuk membaca kekuatan lawan, peringkat 869 dunia mulai keluar menyerang sejak permulaan set kedua. Alhasil, poin-poin krusial dapat ia menangkan untuk memaksa digelarnya set ketiga.
