Ia menambahkan bahwa peningkatan penggunaan internet, layanan digital, dan komunikasi bergerak menyebabkan kebutuhan energi jaringan seluler terus bertambah setiap tahun. Kondisi tersebut membuat operator telekomunikasi perlu mencari solusi agar operasional tetap efisien sekaligus ramah lingkungan.
Menurutnya, salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan energi terbarukan melalui sistem hibrida seperti kombinasi panel surya, baterai, dan generator. “Efisiensi energi tertinggi dapat dicapai apabila operator mampu menghasilkan energi sendiri melalui sumber energi terbarukan,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, tim peneliti menggunakan data sekitar 8.500 BTS yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari jumlah tersebut dipilih 40 sampel site yang mewakili pola konsumsi energi per jam beberapa tipe BTS, seperti Macro, Micro, Pico, dan In-Building System (IBS). Data tersebut kemudian digunakan untuk membuat pemodelan kebutuhan energi jaringan seluler secara nasional.
