Ia juga memaparkan bahwa pendekatan berbasis representasi stok BTS site tersebut masih dapat dikembangkan lebih lanjut, termasuk untuk wilayah yang memiliki keterbatasan data. Menurutnya, pendekatan tersebut juga memungkinkan penghitungan kontribusi sistem energi terbarukan sehingga dapat mempercepat proses dekarbonisasi jaringan telekomunikasi.
Kepala Pusat Riset Telekomunikasi BRIN, Nasrullah Armi, menyampaikan dari sisi kelembagaan, kajian ini memiliki nilai strategis bagi agenda nasional. “Dari perspektif BRIN, kajian ini diharapkan menghasilkan rekomendasi berbasis riset terkait efisiensi energi jaringan telekomunikasi dan optimasi konsumsi daya. Lebih dari itu, hasil kajian dan diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, operator telekomunikasi, dan akademisi dalam mendukung transformasi digital nasional, ketahanan energi, serta pencapaian target pembangunan Indonesia,” pungkasnya. (ahmad)
