Melalui pendekatan tersebut, penelitian diharapkan mampu membantu operator telekomunikasi dalam menyusun perencanaan jangka panjang terkait peningkatan efisiensi energi dan upaya dekarbonisasi jaringan BTS.
Berdasarkan hasil pemodelan, konsumsi energi jaringan seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 14,7 GWh per hari atau sekitar 5,4 TWh per tahun. Pulau Jawa menjadi wilayah dengan konsumsi energi terbesar karena menyerap sekitar 51 persen dari total kebutuhan energi jaringan telekomunikasi selular nasional.
Mardi juga menjelaskan bahwa kepadatan penduduk mempengaruhi kebutuhan jenis BTS di suatu wilayah. Di wilayah dengan jumlah penduduk tinggi, operator membutuhkan lebih banyak BTS yang memiliki jangkauan sinyal yang lebih kecil untuk menjaga kualitas layanan komunikasi. “Semakin tinggi populasi, maka kebutuhan BTS berjangkauan kecil dan lebih terpusat seperti Micro, Pico, dan IBS juga meningkat untuk memenuhi kebutuhan layanan di area padat,” terangnya.
Selain membahas kebutuhan energi, kajian tersebut juga menunjukkan adanya kesenjangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Sekitar 70 hingga 80 persen site IBS berada di Pulau Jawa. Kondisi ini menunjukkan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut berkembang lebih cepat dibandingkan daerah lain di Indonesia.
