Sementara Ibu Nabi Ismail AS, yakni Siti Hajar, ia memberikan pelajaran berharga ketuka peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit, namun berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air.
Siti Hajar adalah seorang istri dan ibu yang tidak hanya duduk termenung, menangis tanpa daya dan berputus asa. Namun, ia menggunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikiranya untuk terus mencari, bergerak dan berjuang tanpa henti.
Upaya Siti Hajar itu sempat tidak mendapatkan apa yang dicari dari upayanya saat menaiki gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi berkait karunia Allah SWT, melalui tendangan kaki balita Nabi Ismail AS, pencarian air ini bisa berhasil.
“Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya, tetapi karena karunia Allah SWT,” tegasnya.
Kiai Cholil mengatakan, peristiwa Sai mengisyaratkan makna perjuangan yang pentang menyerah. Dia menegaskan setiap orang harus siap berjuang keras dan penjang menyerah.
