“Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya. Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat,” tegasnya.
Sementara Nabi Ibrahim AS, adalah seorang ayah dan suami yang menunjukkan karakter pemimpin yang demokratis, namun teguh pada prinsip.
“Saat menerima perintah menyembelih putranya, ia tidak otoriter, melainkan mengajak sang anak berdialog. Ini adalah contoh komunikasi keluarga yang berbasis transparansi dan keimanan,” tegasnya.
Kiai Cholil menerangkan, sosok Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail mengajarkan tentang pentingnya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup.
“Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini,” terangnya. (ahmad)
