“Kenapa kita memensiunkan mereka lebih awal padahal perwira tinggi malah ditambah 60 bahkan bisa diperpanjang,” imbuh dia.
Menanggapi hal itu, Eddy mengatakan pemerintah sengaja membedakan usia pensiun antara bintara-tamtama dan perwira.
Ia menjelaskan jika seluruh anggota Polri memiliki usia pensiun yang sama, hal itu berpotensi menurunkan motivasi anggota untuk meningkatkan pendidikan.
“Kalau semuanya sama rata 60 maka sesungguhnya yang terjadi adalah demotivasi. Bintara dan tamtama akan mengatakan ‘kami tidak perlu sekolah untuk perwira toh pensiunnya sama dengan perwira 60 tahun’,” kata Eddy.
Selain itu, ia mengatakan masa kerja bintara dan tamtama yang umumnya mulai berdinas sejak usia 18 tahun akan jauh lebih panjang dibandingkan perwira apabila usia pensiun disamakan.
“Semua aparatur sipil negara juga punya gradasi. Mohon maaf kami yang latar belakang akademisi itu kalau tidak doktor kemudian lektor habis di 60 tahun, doktor 65, guru besar 70,” ujarnya.
Eddy juga menjelaskan alasan menolak usulan agar usia pensiun anggota Polri bisa diperpanjang hingga 63 tahun.
