Dia menegaskan bahwa prioritas utama program bukan sekadar memperbanyak jumlah dapur, melainkan memastikan bantuan gizi benar-benar diterima kelompok sasaran yang membutuhkan.
“Penerima manfaatnya dulu yang mana, baru dapur itu mengikuti ya. Itu sebuah konsekuensi lah bahwa kita akan tata ulang maka yang kita fokuskan adalah penerima manfaat yang memang targeted betul-betul, yang memang diharapkan pemerintah bisa mengintervensi gizi anak-anak tersebut sesuai dengan teorinya tadi,” paparnya.
Dalam agenda penataan ini, BGN akan menggandeng Kementerian Kesehatan beserta jaringan tenaga ahli gizi.
Arumsari menyatakan, dapur yang tidak memenuhi standar operasional berpotensi digabungkan atau ditutup.
“Baru nanti bicaranya dampak dari itu, pasti ada SPPG yang bisa jadi akan disatukan. Ya mungkin bisa jadi akan ada yang ditutup kalau memang ternyata hasil audit kami itu tidak layak gitu. Nah, itu sebenarnya seperti itu,” kata dia. (far)

