IPOL.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat ekosistem riset nasional melalui pengembangan laboratorium fisika dan kimia berteknologi canggih di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, pada Selasa (23/6/2026).
Fasilitas tersebut menjadi fondasi penting bagi berbagai penelitian strategis di bidang material maju, biomassa, lingkungan, energi, hingga farmasi.
Melalui kegiatan pengenalan laboratorium kepada sivitas akademika Politeknik AKA Bogor, BRIN juga memperkenalkan fungsi, prinsip kerja, serta pemanfaatan berbagai instrumen analisis dan karakterisasi yang mendukung pengembangan riset dan inovasi.
Teknisi Litkayasa Penyelia sekaligus pengelola Laboratorium Kimia dan Bioproses BRIN, Fitri, menjelaskan bahwa laboratorium kimia dilengkapi sejumlah instrumen analitik mutakhir, antara lain Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), High Performance Liquid Chromatography (HPLC), Liquid Chromatography High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), Isotope Ratio Mass Spectrometry (IRMS), dan Inductively Coupled Plasma (ICP).
Menurut Fitri, setiap instrumen memiliki fungsi spesifik untuk mendukung penelitian. GC-MS digunakan untuk mengidentifikasi senyawa volatil seperti minyak atsiri, residu bahan kimia, dan polutan lingkungan. Sementara itu, ICP dimanfaatkan untuk analisis kandungan unsur pada berbagai sampel, sedangkan IRMS dapat digunakan untuk menguji keaslian produk, seperti membedakan gula merah murni dengan produk yang telah dicampur gula pasir.
“Peralatan ini mendukung berbagai penelitian, mulai dari pengembangan mikrokristalin selulosa untuk bahan obat, analisis biomassa untuk menghasilkan nanoselulosa, pengujian kualitas bahan baku industri, hingga identifikasi kontaminan dalam penelitian lingkungan,” ucap Fitri, melansir keterangan resmi BRIN, Kamis 25 Juni 2026.
Di laboratorium fisika, BRIN memperkenalkan sejumlah instrumen karakterisasi material, seperti Transmission Electron Microscope (TEM) dengan kemampuan pembesaran hingga lima juta kali dan Scanning Electron Microscope (SEM) yang mampu memperbesar objek hingga 200 ribu kali. Selain itu, tersedia pula fasilitas teknologi lapisan tipis yang berperan dalam pengembangan material pelapis fungsional dan sensor berteknologi tinggi.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Arby Dimyati, menegaskan bahwa instrumen karakterisasi material menjadi komponen penting dalam riset material modern.
“Tanpa mengetahui karakteristik material secara mendalam, kualitas dan kinerjanya tidak dapat dipastikan. SEM membantu kami memahami struktur dan performa material, termasuk untuk pengembangan teknologi baterai elektrolit padat,” jelas Arby.
Ia menambahkan, fasilitas tersebut telah dimanfaatkan dalam berbagai penelitian, seperti pengembangan baterai, material pelapis tahan aus dan tahan korosi, biomaterial untuk implan tulang, serta material semikonduktor yang digunakan pada sensor dan perangkat elektronik.
Sementara itu, dosen Politeknik AKA Bogor, Fatimah, menilai pengenalan fasilitas laboratorium BRIN memberikan wawasan penting bagi mahasiswa vokasi mengenai peran instrumen ilmiah dalam proses inovasi.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa peralatan laboratorium tidak hanya digunakan untuk pengujian, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menghasilkan inovasi. Mahasiswa memperoleh banyak wawasan, khususnya terkait penggunaan TEM dan SEM untuk mengamati morfologi nanopartikel yang disintesis di AKA Bogor. Kami berharap kolaborasi antara BRIN dan Politeknik AKA Bogor semakin erat,” ujarnya.
Ke depan, BRIN menegaskan bahwa laboratorium fisika dan kimia di KST B.J. Habibie tidak hanya berfungsi sebagai pusat riset internal, tetapi juga menjadi platform kolaborasi terbuka bagi perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi berbasis sains dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.

