Sebab itu, ia mendorong pemerintah menyiapkan dukungan yang lebih spesifik bagi UMKM yang terdampak langsung oleh fluktuasi kurs dan kenaikan biaya energi. “Saya bersama Menteri Perdagangan pernah menyampaikan perlunya dukungan bagi UMKM yang bahan bakunya murni impor. Tekanan mereka berbeda dengan usaha yang menggunakan bahan baku domestik,” kata Budi.
Legislator Fraksi PDI-Perjuangan itu menambahkan bahwa sebagian besar impor Indonesia digunakan sebagai bahan baku industri, sehingga pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi harga barang impor konsumsi, tetapi juga biaya produksi dalam negeri. “Sekarang sekitar 70 persen impor itu untuk bahan baku. Kalau kurs melemah terus, biaya produksi ikut naik dan akhirnya harga di tingkat konsumen juga terdorong naik,” jelasnya.
Budi berharap pemerintah segera melakukan penajaman prioritas anggaran dan menyiapkan langkah mitigasi yang lebih terarah untuk UMKM serta kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kenaikan biaya hidup. Menurutnya, kebijakan fiskal harus diarahkan tidak hanya untuk menjalankan program-program prioritas, tetapi juga menjaga ketahanan konsumsi domestik dan keberlangsungan usaha rakyat.
