Menurut Imran, pola manipulasi ini membuat korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dikendalikan. Bahkan ketika mengalami kekerasan atau perlakuan yang merugikan, korban kerap merasa bersalah, takut, atau menganggap pelaku sebagai satu-satunya tempat bergantung.
“Mengapa korban sulit melawan? Trauma psikologis membuat mereka kehilangan keberanian. Ketergantungan emosional menjadikan pelaku seolah satu-satunya sumber dukungan,” katanya.
Kemenkes menegaskan bahwa grooming tidak hanya terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, praktik tersebut dapat berkembang menjadi pengendalian emosional, finansial, hingga penyekapan. Meski bentuknya berbeda, pelaku menggunakan pola yang sama, yaitu membangun kepercayaan sebelum mengambil alih kendali atas korban.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk mengenali tanda-tanda grooming, seperti seseorang yang meminta hubungan dirahasiakan, berusaha mengisolasi korban dari lingkungan terdekat, memberikan perhatian secara berlebihan untuk menciptakan ketergantungan, serta menggunakan rasa bersalah atau ancaman ketika keinginannya ditolak.

