Berangkat dari kondisi tersebut, para petani kopi bersama pemerintah daerah mulai memperjuangkan pelindungan indikasi geografis bagi kopi asal Jawa Barat tersebut. Perjalanan yang dimulai sekitar tahun 2010 itu membuahkan hasil dengan terbitnya sertifikat indikasi geografis Kopi Arabika Java Preanger pada 2013. Sejak saat itu, berbagai sentra kopi di Jawa Barat memiliki identitas bersama yang semakin memperkuat reputasi mereka di pasar.
Aleh menuturkan bahwa sertifikat indikasi geografis menjadi titik balik penting bagi perkembangan kopi di Jawa Barat.
“Pasca sertifikat indikasi geografis Kopi Arabika Java Preanger terbit, kopi ini semakin dikenal dan kepercayaan pasar juga meningkat,” ujarnya.
Perjalanan membangun reputasi Java Preanger tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan hidup Aleh sendiri. Setelah krisis moneter tahun 1998 membuat lapangan pekerjaan semakin sulit diperoleh, ia memutuskan beralih profesi menjadi petani kopi di kawasan Gunung Tilu. Dari lereng pegunungan itu, ia bersama petani lainnya perlahan membangun kebun kopi yang kini menjadi bagian dari kawasan indikasi geografis Kopi Arabika Java Preanger.

