“Terbaik, salah satu terbaik di dunia. Jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan dengan sangat baik. Jadi, selain mudah dibudidayakan di sini, kelor memiliki kandungan vitamin, mineral, dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan,” lanjutnya.
Meski demikian, Yane mengingatkan bahwa kelor bukan satu-satunya sumber gizi. Konsumsinya tetap perlu diimbangi dengan protein hewani seperti ikan, telur, dan susu. Menurutnya, protein hewani mengandung asam amino esensial, zat besi, seng, dan vitamin B12 yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Kita tidak hanya belajar mengenai budidaya dan pengolahan kelor menjadi produk yang bernilai tambah, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya gizi seimbang bagi keluarga,” tambahnya.

Yane menilai, kelor NTT berpotensi memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, sekaligus menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut perlu didukung melalui budidaya yang berkelanjutan dan pengolahan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

