Atas temuan ini, Selly mendesak pihak syarikah (perusahaan mitra penyelenggara) yang bekerja sama dengan Kidana—perusahaan pengembang milik pemerintah Arab Saudi—untuk benar-benar memenuhi komitmen pelayanannya kepada Pemerintah Indonesia.
Gagalnya Distribusi Logistik dan Kesehatan
Kondisi terparah yang ditemukan oleh Timwas adalah sistem distribusi logistik dan penanganan kesehatan yang dinilai gagal. Selly membeberkan fakta bahwa ada jemaah yang telantar di dalam tenda tanpa asupan makanan selama berjam-jam.
“Ada beberapa jemaah yang sudah 9 jam berada di dalam tenda tidak mendapatkan fasilitas makan. Akhirnya para lansia drop. Tentu saja ini menjadi perhatian dari DPR,” tegas Selly.
Ia juga menyayangkan minimnya fasilitas kesehatan yang layak dari pemerintah Indonesia untuk menangani jemaah yang jatuh sakit di dalam tenda akibat kondisi yang berdesakan dan kelaparan tersebut.
Sebagai langkah evaluasi ke depan, Selly meminta Kementerian Haji dan Umroh untuk berhitung ulang dan mengambil kebijakan yang lebih realistis. Ia mengusulkan agar jemaah yang berisiko tidak dipaksakan menginap (mabit) di tenda Mina, melainkan dikembalikan ke hotel di Makkah (skema tanazul).
