“Target lifting minyak 2026 hanya naik sekitar delapan ribu barrel per day dibandingkan 2025. Ini terlalu kecil. Pertamina harus bergerak lebih progresif,” tegas Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Menurutnya, upaya peningkatan lifting tidak cukup hanya dengan menahan laju natural decline melalui optimalisasi lapangan tua maupun penerapan enhanced oil recovery (EOR). Ia menekankan bahwa percepatan eksplorasi wilayah kerja baru harus menjadi prioritas utama.
“Yang saya lihat, titik terlemah Pertamina saat ini adalah percepatan eksplorasi. Kalau natural decline terjadi, itu harus diimbangi dengan langkah eksplorasi yang lebih cepat,” ujarnya.
Ramson juga menilai proses pengambilan keputusan di internal Pertamina masih terlalu lamban. Ia meminta manajemen PHE menerapkan sistem kontrol berbasis teknologi informasi yang memungkinkan seluruh progres eksplorasi hingga produksi dapat dipantau secara real time oleh pimpinan perusahaan.
“Jangan business as usual. Harus progresif. Kalau ada pimpinan regional yang lamban, evaluasi dan ganti. Ini soal tanggung jawab besar untuk menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.
