Menurut Bonnie, setiap benda cagar budaya memiliki dokumen pendukung yang menyimpan informasi mengenai asal-usul, perpindahan, hingga proses pengelolaannya. Karena itu, pengembalian arsip dinilai sama pentingnya dengan pemulangan koleksi fisik.
Ia mencontohkan sejumlah koleksi bersejarah seperti keris yang masih memiliki arsip di Belanda. Menurutnya, ANRI perlu mengupayakan agar arsip tersebut dapat diperoleh, setidaknya dalam bentuk salinan digital apabila pengembalian fisik belum memungkinkan.
“Misalkan keris, keris itu kan ada arsipnya. Arsipnya dicari tahu tidak? Diambil tidak ke Belanda? Minimal punya kopinya. Kalau saya sih minta ambil saja, ambil. Terus pengetahuannya dibuka ke publik,” tegasnya.
Selain mendorong percepatan repatriasi arsip, Bonnie juga meminta ANRI memperluas layanan kepada masyarakat. Menurutnya, fungsi arsip nasional tidak hanya sebagai lembaga penyimpan arsip statis untuk kebutuhan pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat layanan publik yang membuka akses terhadap sumber sejarah.

