Keunggulan itu diperkuat dengan sistem transportasi publik yang saling terhubung, mulai dari MRT Jakarta, LRT Jakarta hingga TransJakarta, sehingga mobilitas atlet, ofisial, dan penonton diyakini akan berlangsung lebih efisien.
Pengalaman menjadi tuan rumah Asian Games 2018 juga menjadi bukti bahwa Jakarta mampu menghadirkan penyelenggaraan olahraga berkelas internasional dengan akses transportasi yang cepat dan terukur.
Tak hanya itu, Andri optimistis penyelenggaraan PON di Jakarta akan memberikan efek berganda bagi perekonomian. Ia mencontohkan Jakarta International Marathon (JAKIM) yang hanya berlangsung selama dua hari mampu menghasilkan perputaran ekonomi hingga sekitar Rp694,3 miliar.
“Jika kegiatan dua hari saja mampu menghasilkan dampak ekonomi sebesar itu, maka PON yang berlangsung sekitar dua pekan tentu akan memberikan multiplier effect yang jauh lebih besar bagi sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga UMKM,” katanya.
Sebanyak 17 cabang olahraga direncanakan dipertandingkan di Jakarta, di antaranya akuatik, anggar, senam, menembak, balap sepeda, berkuda, bisbol, tenis, squash, gulat, ice skating, skateboard atau sepatu roda, boling, dayung, korfball, teqball, dan rugbi.
Seluruh pertandingan akan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia seperti kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta International Equestrian Park, Velodrome Rawamangun, GOR Bulungan, Gelanggang Olahraga Ciracas, Stadion Atletik Rawamangun hingga Danau Cincin.
