Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana, mengatakan penurunan muka air bendungan dipengaruhi oleh kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
“Karena kemarau ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat,” ujar Dedi, Rabu (29/7/2026).
Menurut Dedi, pada musim kemarau sebelumnya bangunan bekas permukiman memang sempat terlihat, namun hanya sebagian kecil saja. Kali ini, kondisi surutnya air membuat sisa-sisa bangunan tampak jauh lebih jelas.
“Sebelumnya hanya sebagian,” katanya.
Meski debit air mengalami penurunan, Dedi memastikan kondisi Bendungan Karian masih berada pada level aman dan tetap mampu memenuhi kebutuhan air irigasi bagi wilayah di bagian hilir.
“Jika di hilir membutuhkan air lebih banyak, masih dapat dikeluarkan dari Karian,” ujarnya.
Sebelumnya, kawasan permukiman tersebut mulai dikosongkan oleh warga pada 2023 sebelum akhirnya digenangi air bendungan. Hingga kini, sebagian bangunan masih berdiri meski atap-atap rumah telah hilang dan hanya menyisakan dinding yang tampak menjulang dari dasar waduk saat air surut.
