Secara teknis, kebijakan ini mewajibkan pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke dalam solar. Sebelum diresmikan, pemerintah telah melakukan serangkaian pengujian ketat pada enam sektor vital pengguna mesin diesel, meliputi otomotif, alat pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, hingga kereta api.
Dampak ekonomi dari implementasi ini pun terhitung masif. Berdasarkan proyeksi tahun 2026, peralihan ke B50 diperkirakan mendongkrak penghematan devisa negara hingga Rp170 triliun, melonjak signifikan dibandingkan program B40 yang berada di angka Rp133,3 triliun. Selain itu, nilai tambah CPO nasional terkerek naik menjadi Rp23,49 triliun, menyerap 2,1 juta tenaga kerja, dan memangkas emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2.
Guna memastikan lompatan besar ini berjalan mulus, Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, bergerak cepat mematangkan lini operasi. Sehari sebelum peluncuran, pria yang akrab disapa Iwan Bule ini melakukan inspeksi mendadak ke Terminal Terpadu (IT) Plumpang, Jakarta Utara, guna memastikan kesiapan infrastruktur distribusi energi sebelum diresmikan Presiden.

