Selain pemadaman, patroli darat dan pemantauan udara terus dilakukan untuk mengidentifikasi fire spot maupun hot spot. Pemantauan juga diperkuat dengan pengamatan visual dan penggunaan aplikasi Sistem Monitoring Hutan dan Lahan (SIPONGI) guna mendeteksi titik panas serta mengantisipasi munculnya titik api baru.
Dalam mendukung operasi di lapangan, unsur gabungan mengerahkan sejumlah sarana dan peralatan, antara lain, enam unit mobil pemadam kebakaran, satu unit water drone BNPB, satu unit helikopter water bombing, 70 unit sepeda motor trail, lima unit kendaraan double cabin, serta peralatan pemadaman manual seperti kepyok.
Sebagai bagian dari upaya pengendalian risiko, kawasan TNBTS masih ditutup hingga waktu yang belum ditentukan menyusul kebakaran yang terjadi di Blok Bantengan. Penutupan dilakukan untuk mendukung keselamatan masyarakat dan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk melaksanakan penanganan dan pemantauan secara optimal.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, pengelola kawasan, serta seluruh unsur terkait terus memperkuat kesiapsiagaan untuk memastikan titik api dapat dikendalikan dan mencegah meluasnya kebakaran.
