Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: BRIN Bongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Pantura Jawa Tengah
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Headline > BRIN Bongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Pantura Jawa Tengah
HeadlineNusantara

BRIN Bongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Pantura Jawa Tengah

Iqbal
Iqbal Published 02 Aug 2026, 10:29
Share
6 Min Read
hujan eksrim
SHARE

IPOL.ID – Memahami penyebab hujan ekstrem merupakan langkah penting untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca. Upaya ini juga berperan dalam memperkuat sistem peringatan dini terhadap bencana hidrometeorologi di Indonesia.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan bahwa hasil-hasil riset mengenai dinamika atmosfer perlu terus dikembangkan agar dapat mendukung mitigasi bencana dan pengambilan keputusan berbasis sains.

“Melalui penelitian seperti ini, kita dapat memahami bagaimana berbagai proses atmosfer saling berinteraksi hingga memicu kejadian hujan ekstrem. Pengetahuan tersebut penting untuk mendukung pengembangan sistem peringatan dini dan memperkuat upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia,”  ujar Sulaiman, Minggu (2/8).

Satu penelitian tersebut yaitu tentang hujan ekstrem yang mengguyur pesisir utara Jawa Tengah pada 13 Maret 2024. Hujan menyebabkan banjir besar di sejumlah wilayah, termasuk Kota Semarang. Pada tiga stasiun BMKG di wilayah Semarang, curah hujan harian tercatat mencapai 171,6 millimeter di Tanjung Emas, 196 millimeter di Ahmad Yani, dan 203,2 milimeter di Stasiun Klimatologi Jawa Tengah. Dengan demikian, ketiga stasiun mencatat hujan di atas 150 milimeter, bahkan ada yang melampaui 200 milimeter. Namun, di saat yang bersamaan, wilayah Jawa Tengah bagian tengah dan selatan relatif tidak tidak mengalami hujan dengan intensitas yang sama. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan bagi peneliti.

Baca Juga

brisa
Presiden Dorong BRIN Dukung Kemandirian Energi dan Pengelolaan Sampah Nasional
Jawa Tengah Tak Terbendung Merajai MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026
Menkeu Purbaya Cek Pelaksanaan Program Prioritas Pemerintah untuk Kesejahteraan Rakyat di Jawa Tengah

Pertanyaan tersebut dijawab melalui penelitian yang dilakukan Alfan Sukmana Praja bersama tim peneliti lintas institusi, yang melibatkan BRIN, BMKG, Universitas Padjadjaran, Telkom University, Institut Teknologi Bandung, dan Universiti Sains Malaysia. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal internasional Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics melalui artikel berjudul Multi-factor Driving Mechanism of the 13 March 2024 Extreme Rainfall over Northern Coastal Central Java. Artikel ilmiah tersebut tersedia secara daring sejak 30 Juni 2026 dan dipaparkan kembali kepada sivitas riset dalam kegiatan Coffee Morning PRIMA.

Alfan menjelaskan bahwa curah hujan harian di atas 150 milimeter tergolong jarang berdasarkan catatan klimatologis sekitar lima belas tahun terakhir di wilayah Semarang. Berbeda dengan kejadian sebelumnya yang biasanya hanya terjadi di satu atau dua titik pengamatan, pada 13 Maret 2024, tiga stasiun cuaca di Semarang secara bersamaan mencatat curah hujan di atas 150 milimeter per hari, bahkan di antaranya melebihi 200 milimeter.

“Yang ingin kami pahami adalah mengapa hujan sangat lebat terkonsentrasi di pesisir utara, sedangkan wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah tidak mengalami kondisi yang sama,” ujarnya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti menggabungkan berbagai sumber data, mulai dari data pengamatan BMKG dan Automatic Weather Station (AWS), radar cuaca, citra satelit Himawari-8, data presipitasi GPM, data angin ASCAT, serta data reanalisis atmosfer ERA5. Penelitian juga menggunakan model HYSPLIT untuk menelusuri asal dan lintasan uap air, serta simulasi model menggunakan Weather Research and Forecasting Model atau WRF. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat proses pembentukan hujan dari skala regional hingga kondisi lokal di sekitar Semarang.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan ekstrem tersebut terjadi karena beberapa fenomena atmosfer muncul secara bersamaan. Fenomena-fenomena ini membawa pasokan uap air dalam jumlah besar menuju Pulau Jawa dan menciptakan kondisi yang sangat mendukung terbentuknya awan hujan. Di antaranya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Westerly Wind Burst (WWB) atau penguatan angin baratan, Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) atau aliran angin dari belahan bumi utara yang melintasi khatulistiwa, serta keberadaan depresi tropis di selatan Indonesia,” Alfan mengungkapkan.

Namun, pasokan uap air yang melimpah saja belum cukup menjelaskan mengapa hujan sangat deras hanya terjadi di Pantura Jawa Tengah. Menurut Alfan, proses lokal justru menjadi faktor yang menentukan lokasi turunnya hujan paling lebat. Interaksi antara angin laut dan angin darat membuat massa udara lembab terkumpul di wilayah pesisir.

Sementara itu, pegunungan di selatan Semarang berperan seperti penghalang yang memaksa udara lembab naik ke atmosfer. Ketika udara naik, uap air lebih mudah mengembun menjadi awan hujan, sehingga hujan terus berkembang di kawasan pesisir hingga malam hari.

Untuk memastikan peran topografi tersebut, tim melakukan simulasi dengan mengurangi bahkan menghilangkan ketinggian pegunungan dalam model komputer. Hasilnya, pola hujan berubah secara signifikan. Ketika pegunungan dibuat lebih rendah, pusat hujan bergeser ke wilayah tengah Jawa Tengah. Sementara ketika topografi dihilangkan, hujan ekstrem hampir tidak terbentuk lagi di wilayah pesisir. Temuan ini menunjukkan bahwa bentuk permukaan bumi memiliki peran penting dalam memperkuat hujan, meskipun bukan satu-satunya penyebabnya.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa hujan ekstrem pada 13 Maret 2024 merupakan hasil kerja bersama berbagai proses atmosfer. Fenomena atmosfer skala besar berperan membawa uap air dan menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya hujan, sedangkan kondisi lokal seperti angin darat-laut dan topografi menentukan lokasi hujan paling lebat terjadi.

“Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan prakiraan cuaca ekstrem dan sistem peringatan dini di Indonesia. Penelitian tersebut belum secara langsung menguji peningkatan akurasi suatu sistem prakiraan operasional, tetapi memberikan pemahaman proses yang penting untuk memperbaiki diagnosis kejadian hujan ekstrem. Dengan memahami bagaimana berbagai faktor atmosfer saling berinteraksi, risiko bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan pegunungan dapat diantisipasi dengan lebih baik,” ujar Alfan. (ahmad)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: brin, Hujan ekstrem, Jawa Tengah, pantura, Penyebab
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article Ilustrasi tenaga kesehatan yang diduga melakukan malpraktik sunat laser. Foto: Kemenkes Kemenkes Evaluasi Program Internsip: 10.564 Dokter Skrining Kesehatan Menyeluruh
Next Article optimize 46 Jadikan Putusan MK Sebagai Landasan, Anggaran Pendidikan Dapat Digunakan Lagi untuk Peningkatan Kualitas SDM

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260812 WA0093
HeadlineInternasional

Catatan Gempa Bersejarah di Kolombia Jadi Pelajaran Berharga Bagi Indonesia

Jakarta Raya
Camat Pasar Minggu Dorong Pekerja Bukan Penerima Upah Jadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan
13 Aug 2026, 15:24
HeadlineJabodetabek
Tim Gabungan BNN RI dan Polda Metro Jaya Sikat Bos Narkoba Kampung Bahari, Sarang Bandar Diobok-obok
13 Aug 2026, 16:45
EkonomiHeadline
Garuda Indonesia Copot Direktur Niaga Reza Aulia Hakim, Kegiatan Operasional Berjalan Normal
13 Aug 2026, 14:19
Ekonomi
BPJS Ketenagakerjaan Mampang Serahkan JKM kepada Ahli Waris Ketua RT
13 Aug 2026, 12:25
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?