Hal serupa terjadi di sektor pertanian. Meskipun sempat diwarnai panen raya serentak di berbagai daerah, pertumbuhannya melambat dari 4,97 persen pada triwulan I-2026 menjadi 3,8 persen pada triwulan II-2026. Padahal, sektor primer ini berkontribusi 13,57 persen terhadap PDB dan menampung 28,75 persen tenaga kerja nasional.
Melambatnya sektor manufaktur dan pertanian berimbas langsung pada struktur ketenagakerjaan nasional. Data BPS menunjukkan jumlah pekerja formal meningkat dari 59,93 juta (Februari 2026) menjadi 60,31 juta atau 40,7 persen (Mei 2026). Namun, proporsi pekerja informal justru mendominasi hingga 87,88 juta jiwa atau 59,3 persen.
Dibandingkan akhir tahun 2025, proporsi tenaga kerja informal tercatat meningkat 1,6 persen, sedangkan pekerja formal mengalami penurunan dengan persentase yang sama. Legislator asal Jawa Timur ini menduga pelebaran jarak (gap) antara sektor formal dan informal tersebut memicu kenaikan angka kesenjangan sosial (rasio gini) nasional dari 0,363 pada September 2025 menjadi 0,368 pada Maret 2026, dengan kenaikan paling terasa di kawasan perkotaan (0,383 ke 0,387).
