Oleh: Samdi Yarsono,
Mahasiswa Doktor Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University
IPOL.ID – Setiap hari, gunungan sampah di berbagai kota Indonesia terus bertambah. Dari plastik, sisa makanan, hingga dedaunan, semuanya bercampur dan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menurut data Sistem Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2023, hingga 24 Juli 2024, timbunan sampah nasional dari 290 kabupaten/kota mencapai 31,9 juta ton. Komposinya terdiri dari sampah plastik 19.5%, dan sebagian besar masih berakhir di TPA yang sudah sesak.
Masalah ini bukan hanya soal bau dan pemandangan yang tidak sedap, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan, lingkungan, dan iklim. Namun, di balik tumpukan masalah itu sesungguhnya ada peluang.
Riset terbaru memperkenalkan ada Tujuh Paradigma Pengelolaan Sampah yang Efisien. Gagasan ini mengajak kita mengubah cara pandang: sampah bukan beban, melainkan sumber daya. Paradigma pertama dimulai dari rumah. Jika setiap keluarga terbiasa memilah sampah organik dapur seperti sisa makanan dari plastik, kertas, atau logam, maka separuh persoalan selesai sejak awal.
