Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Kemenperin Tegaskan IKI Masih Ekspansif: Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Produksi dan Pesanan Naik
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Ekonomi > Kemenperin Tegaskan IKI Masih Ekspansif: Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Produksi dan Pesanan Naik
Ekonomi

Kemenperin Tegaskan IKI Masih Ekspansif: Sektor Manufaktur Tetap Tangguh, Produksi dan Pesanan Naik

Iqbal
Iqbal Published 30 Sep 2025, 19:25
Share
5 Min Read
uru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif. Foto: kemenperin
SHARE

IPOL.ID – Kinerja industri manufaktur Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan di tengah dinamika global dan domestik yang sedang berkembang, karena didukung oleh sejumlah kebijakan yang membawa dampak positif terhadap peningkatan aktivitas produksi. Hal ini tercemin pada hasil Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan September 2025 yang mencapai 53,02 atau masih berada dalam zona ekspansi.

Meskipun mengalami perlambatan tipis sebesar 0,53 poin dibandingkan Agustus 2025 yang berada di angka 53,55, namun capaian IKI September 2025 lebih tinggi 0,54 poin dibandingkan IKI September 2024 sebesar 52,48.

“Dari seluruh sektor yang kami analisis, yakni 23 subsektor industri, bahwa pada bulan Agustus lalu untuk indeks variabel produksi sebagian besar subsektor industri mengalami kontraksi, dengan rincian 19 subsektor yang kontraksi dan 4 subsektor yang ekspansi,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif di Jakarta, Selasa (30/9).

Jubir Kemenperin mengemukakan, pada September 2025, untuk variabel produksi mengalami kenaikan signfikan. Terdapat 12 subsektor industri yang mengalami ekspansi, sedangkan yang kontraksi hanya 11 subsektor yang berada di posisi kontraksi. “Ini artinya, aktivitas produksi meningkat, karena juga adanya demand yang tinggi. Produksi yang membaik ini juga didukung karena faktor ketersediaan bahan baku dan teknologi,” tuturnya.

Baca Juga

uru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif
IKI Februari 2026 Jadi Tertinggi Kedua Sejak Diluncurkan
Kabar Baik! Industri Manufaktur Tetap di Jalur Ekspansi di Akhir Tahun, IKI Desember 2025 Tercatat 51,90
Melambat, IKI November 2025 Tetap Lanjutkan Ekspansi Capai 53,45

Ada delapan subsektor industri yang mengalami kenaikan status produksi dari kontraksi bulan Agustus 2025 menjadi ekspansif pada bulan September 2025. Kedelapan subsektor tersebut, yaitu industri pengolahan tembakau, industri, kulit, barang dari kulit dan alas kaki, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur), serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia.

Selanjutnya, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, industri alat angkutan lainnya, serta industri furnitur. Kenaikan status produksi pada delapan subsektor tersebut disebabkan faktor seasonal industrinya, meningkatnya permintaan dan berkurangnya persediaan sehingga delapan subsektor itu mengalami kenaikan level produksi dari kontraksi ke ekspansif.

Febri pun menjelaskan, perlambatan IKI ikut dipengaruhi oleh turunnya indeks variabel pesanan dan persediaan produk, meskipun masih dalam zona ekspansi. Variabel pesanan berada di level 53,79, didorong oleh permintaan domestik yang relatif stabil, meskipun turun 3,59 poin dibanding bulan Agustus 2025 sebesar 57,38.

Sedangkan variabel persediaan produk turun 1,18 poin menjadi 55,86 pada bulan September 2025, masih berada pada zona ekspansi mencerminkan terserapnya stok dengan meningkatnya pesanan. Sementara itu, meskipun mengalami peningkatan sebesar 5,01 poin, namun produksi masih dalam zona kontraksi yaitu 49,85.

“Kontraksi pada variabel produksi sudah berlangsung selama empat bulan terakhir. Namun perbaikan signifikan pada bulan September memberi sinyal awal pemulihan. Hal ini menunjukkan pelaku usaha mulai meningkatkan aktivitas, meski dengan langkah hati-hati karena ketidakpastian permintaan,” jelas Febri.

Pada IKI September 2025, sebanyak 21 subsektor industri yang mengalami ekspansi memiliki kontribusi sebesar 97,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Industri Pengolahan Nonmigas triwulan II 2025. Terdapat dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18) serta industri minuman (KBLI 11), didorong oleh kebijakan pemerintah yang menambah optimisme para pelaku usaha.

Sementara itu, dua subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri komputer, barang elektronik dan optik (KBLI 26) serta jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan (KBLI 33). Kontraksi pada industri komputer, barang elektronik dan optik disebabkan oleh lemahnya pasar domestik maupun ekspor akibat ketergantungan terhadap barang impor, permintaan yang turun diperburuk dengan banjir produk impor murah terutama dari China.

Sementara untuk subsektor jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan dipengaruhi oleh penurunan pesanan domestik dari sektor otomotif dan manufaktur umum. Subsektor ini sangat bergantung pada industri utamanya. Jika industri utamanya ekspansi, maka sektor pemasangan akan meningkat sedangkan pemesanan terkait jasa reparasi lebih mengikuti periode pemeliharaan, periodic maintenance atau overhaul dilakukan saat posisi mesin dan peralatan idle. Sifat job order yang musiman membuat volatilitas pesanan di industri jasa reparasi sangat tinggi.

“Beberapa perusahaan sedang mengerjakan kontrak existing karena proyek jasa reparasi membutuhkan durasi pengerjaan yang relatif panjang yang menyebabkan penyerapan jasa reparasi tidak langsung terlihat dalam satu periode, sehingga pada bulan berjalan terlihat stagnan atau menurun,” ungkapnya. (ahmad)

GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: Indeks Kepercayaan industri, Industri Manufaktur
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meninjau secara langsung pelaksanaan geladi kotor dalam rangka persiapan upacara puncak Hari Ulang Tahun ke-80 TNI di Monas. Jenderal TNI Agus Subiyanto Tinjau Langsung Geladi Kotor HUT Ke-80 TNI Tahun 2025 di Monas
Next Article rs kard Rumah Sakit Kardiologi Canggih Kini Hadir di Solo

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260612 WA00631
Ekonomi

Pegadaian dan KSEI Perkuat Ekosistem Emas Melalui Investasi ETF Emas

Ekonomi
Bank Mandiri Jadi Bank Pertama di Indonesia yang Terhubung Langsung dengan CIPS, Perkuat Konektivitas Finansial RI-China
12 Jun 2026, 14:40
Ekonomi
Fundamental Kuat, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak terhadap Pasar Modal
12 Jun 2026, 09:21
Gaya hidup
Menyeimbangkan Relaksasi dan Edukasi: Definisi Baru Libur Sekolah Bersama Properti Bintang Lima Eminence Global
12 Jun 2026, 15:16
HeadlineNews
‘Indonesia Bangkrut’ Menggema di Bundaran HI, BEM UI Ajak Rakyat Turun ke Jalan Lawan Kebijakan Pemerintah
12 Jun 2026, 13:23
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?