IPOL.ID – Tagar #IranRevolution2026 jadi trending di platform media sosial X. Hal ini dipicu meluasnya gelombang protes di berbagai kota di Iran. Aksi dalam dua pekan terakhir bermula dari krisis ekonomi -dari inflasi tinggi hingga anjloknya nilai mata uang- hingga kini berkembang menjadi gerakan politik terbuka yang secara langsung menantang legitimasi pemerintahan Republik Islam Iran.
Berdasarkan data Human Rights Activists News Agency (HRANA) hingga Senin (12/01/2026) total jumlah korban tewas diperkirakan lebih dari 500 jiwa. Termasuk lebih dari 10.600 orang telah ditangkap sejak demonstrasi dimulai apad aakhir Desember tahun lalu. Angka ini merupakan akumulasi dari dua pekan protes nasional yang intens. Dikatakan angka ini belum terverifikasi secara independen karena pemerintah Iran memutus jaringan internat dan pembatasan media.
Gerakan ini mendapatkan respon internasional. Sejumlah pemimpin dunia dan organisasi global mengecam tindakan keras Iran dan menyerukan perlindungan bagi warga sipil. Eropa dan AS secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran sekaligus mengutuk pembatasan komunikasi dan kekerasan terhadap demonstran. Presiden AS menyatakan kesiapannya mempertimbangkan tindakan militer dan tekanan strategis terhadap rezim Iran jika penindasan terhadap warga sipil terus meningkat.
