IPOL.ID – Cita-cita Indonesia memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) bukanlah gagasan baru. Sejak awal kemerdekaan, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, memiliki komitmen kuat terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk bidang nuklir dan antariksa.
Ia menyebut komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang keduanya diperkuat dengan diterbitkannya Undang-Undang.
“Energi nuklir termasuk salah satu sumber energi paling aman dan rendah emisi karbon, sebanding dengan energi terbarukan lainnya,” ungkap Anhar Riza Antariksawan, peneliti dan dosen Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN yang menjadi salah satu narasumber pada Capacity Building Awareness Nuklir 2026, pekan kemarin.
Saat ini, lanjut Anhar, energi nuklir diposisikan sebagai bagian dari bauran energi untuk mendukung target energi baru dan terbarukan. Konsep nuclear renewable hybrid energy system turut diperkenalkan sebagai solusi inovatif, di mana PLTN dapat dikombinasikan dengan energi terbarukan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung kebutuhan industri, air bersih, dan bahan bakar sintetis.
