IPOL.ID – Hantavirus menjadi salah satu topik kesehatan yang belakangan banyak mendapat perhatian masyarakat. Kewaspadaan terhadap virus ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga erat kaitannya dengan sanitasi dan pengelolaan lingkungan perkotaan.
Menanggapi hal tersebut, Pakar Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB, Mayrina Firdayati, S.Si., M.T., menekankan bahwa pendekatan rekayasa lingkungan memiliki peran penting dalam memitigasi penyebaran virus tersebut.
Meski baru ramai diperbincangkan, Hantavirus sebenarnya bukan fenomena baru di Indonesia. Virus ini telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan diketahui berasal dari varian yang dikenal sebagai Seoul Virus. Hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Gejala infeksi Hantavirus kerap menyerupai penyakit endemik lain, seperti demam berdarah, leptospirosis, maupun nyeri otot yang disertai demam. Kondisi ini menyebabkan banyak kasus tidak teridentifikasi secara spesifik. Namun, pascapandemi Covid-19 dan semakin luasnya penggunaan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR), keberadaan virus ini menjadi lebih mudah dideteksi.

