“Membangun komoditas, komersial dengan seni. Karena filosofi LAKON tak hanya membangun bisnis saja,” kata Adi.
Jadi, sambungnya, koleksi yang ditampilkan ini sebagai kemungkinan diri mereka sendiri. Ditampilkan tak hanya ceritanya saja tapi impresinya dan tak hanya pakaiannya saja. “Sesederhana itu,” ucapnya.
Dia menjelaskan, sehingga karakter pakaian yang muncul sebagai keseluruhan. Sebuah kolaborasi untuk disampaikan ke audience bahwa ada cerminan kedua belah pihak berkolaborasi. “Saya menikmati prosesnya, membuat saya belajar sesuatu,” ucapnya.
Ketika ditanyakan soal pelestarian budaya? Adi melihat beberapa hal yang jadi garis bawah, ada fokus yang cukup dalam. Ternyata banyak sekali yang terputus dalam ekosistem di dunia fashion. “Dalam hal ini batik. Seperti tersekat-sekat. Nah, LAKON menyatukan itu semua,” ungkapnya.
Sementara itu, Engel Tanzil, owner Dia Lo Gue Art Space menambahkan, ke depannya LAKON bisa menjadi besar, dari sebuah ide tercetus ada proses panjang. Sehingga bisa menjadi sebuah cerita bagi anak-anak muda nantinya.
