Sebenarnya, kata Pak Lurah, potensi yang bisa dibanggakan dari Kalurahan Canden, tidak hanya jamu gendong, tetapi juga seni budayanya. Semoga potensi seni budayanya kelak juga menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kalurahan Canden. Atraksi seni budaya, seperti jathilan, wayang, kethoprak, reog, karawitan, hadroh, dan gejog lesung sebagai penunjang wisata kebugaran yang saat ini menjadi program unggulan dari Lurah Canden.
Jamu gendong sudah tiga generasi menjadi magnet atau daya tarik Padukuhan Kiringan Kalurahan Canden. Sejumlah tokoh perempuan, seperti Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam, dan mantan Bupati Bantul Sri Suryawidati Idham Samawi, menjadi pelanggan jamu gendong. Penggemar minuman herbal juga terus bertambah dan potensi ekonomi untuk menggerakkan perekonomian di perdesaan juga semakin besar.
Untuk Padukuhan Kiringan saja, jika yang aktif berproduksi dan berjualan berjumlah 100 orang dan setiap hari memperoleh pendapatan Rp500 ribu, maka uang yang beredar atau dikelola para ibu-ibu di Padukuhan Kiringan ada sekitar Rp 50 juta per hari. Sedangkan per bulannya mencapai Rp1,5 miliar dan per tahunnya mencapai Rp18 miliar. Ini potensi ekonomi yang cukup besar dan luar biasa untuk lingkup satu pedukuhan. Sangat jelas, jamu gendong mampu menggerakkan ekonomi perdesaan dan harus menjadi perhatian para pemegang kebijakan. (Kang Ono/Timur)
