Sebelumnya dalam satu hari Idar dan sejumlah karyawannya dapat memproduksi tahu hingga empat kuintal per hari. Karena belakangan jumlah produksi anjlok hingga disiasati menjadi setengahnya.
Mahalnya harga kedelai dan daya beli masyarakat menurun akibat pandemi Covid-19 melanda Tahun 2019 lalu, jadi salah satu faktor turunnya jumlah produksi tahu usaha milik Idar.
“Kalau untuk ukuran tahu enggak berubah, hanya harganya saja lebih mahal. Sekarang saya jual per papan ke pedagang itu Rp33 ribu. Kalau ke pengecer Rp38 ribu per papan,” katanya.
Produsen tahu di kawasan Pekayon, Pasar Rebo, juga mempertanyakan stok kedelai lokal yang tidak bisa memenuhi kebutuhan produksi.
Idar mengaku heran karena kedelai lokal yang secara kualitas lebih bagus untuk produksi tahu tapi justru stoknya tidak ada di pasaran.
Minimnya ketersediaan jumlah kedelai lokal membuat para produsen bergantung pada kedelai impor yang harganya tidak stabil karena mengikuti perdagangan bebas.
“Stoknya juga jarang. Dulu pas zaman masih swasembada memang stoknya ada, tapi sekarang enggak. Padahal lebih bagus dibanding kedelai impor,” beber Idar.
