“Saya ingin mengajak anak muda untuk merefleksikan kembali mengenai jati diri mereka, merefleksikan kembali mengenai apa yang penting dan kurang penting dalam perjalanan hidup mereka. Terutama dalam lingkungan society mereka tinggal,” ajak dia ke anak muda.
“Bebek-bebek di lukisan “Soaring in the Sky” ini adalah penggambaran bagaimana lingkungan sosial kita, ada orang-orang yang gemar mengkritik dan tidak peduli. Mereka memakai topeng yang berbeda-beda di lingkungan tempat mereka berada agar diterima secara sosial, sampai melupakan jati diri mereka,” paparnya penuh filosofi.
Pun demikian dengan karya “Final Destiny”. Peter ingin menggambarkan lewat karakter Redmiller Blood berambut merah dan bermata absurd seperti tampak tetesan air mata berwarna pelangi.
Dia ingin, lukisannya itu bisa menggambarkan realita di perkotaan, tuntutan pekerjaan tinggi, sistem kapitalis yang mengukur kesuksesan dari standar keberhasilan hidup. Seseorang, lanjutnya, seperti baru dianggap ‘berhasil’ jika bisa hidup dalam dunia warna-warni gemerlap.
