Dalam sebuah wawancara dengan VOA, juru bicara Kongres Uyghur Dunia, Dilshat Rishit, menyesalkan perubahan karakter Masjid Doudian itu.
“China mengubah gaya Arab menjadi apa yang dianggap sebagai gaya China. Dan ketika Anda melihatnya, Anda menyebutnya kuil, tetapi itu bukan kuil, dan Anda menyebutnya masjid, tetapi itu bukan masjid,” katanya.
“Pemerintah Xi merasa terancam karena semakin banyak orang China yang berpaling ke agama selain Taoisme dan Buddha, yang semula berakar kuat di China,” ujar Shih.
“Setelah Xi berkuasa, ia percaya bahwa orang-orang tidak akan lagi melihat (Partai Komunis China,-red) sebagai kepercayaan utama mereka, sehingga mengancam keberadaan partai itu,” tambahnya.
Berdampak pada Ibadah
Pihak berwenang China tidak hanya memaksa masjid untuk “memperbaiki diri” tetapi juga berkomitmen untuk mengubah praktik agama-agama yang berasal dari luar negeri.
Di Xinjiang, misalnya, meskipun pihak berwenang tidak secara eksplisit melarang puasa selama bulan Ramadan, namun banyak warga Muslim melaporkan bahwa mereka akan menghadapi hukuman jika berpuasa.
