Shih mengatakan pihak berwenang bahkan mengontrol cara umat Islam membaca Al-Qur’an.
“Menurut Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an harus dibaca dalam bahasa Arab,” ujarnya. “Pemerintah China menganggap hal itu sebagai pengaruh yang sangat buruk. Mereka berpikir bahwa sekolah-sekolah agama dipengaruhi oleh kekuatan asing.”
Dilshat percaya bahwa jika pihak berwenang China terus menekan keyakinan agama yang berasal dari luar negeri, hal itu akan “semakin memperburuk kekacauan.”
“Orang-orang akan putus asa untuk mempertahankan keyakinan mereka,” katanya. “Jika China melanjutkan kebijakan ekstremnya untuk menghilangkan kepercayaan atau agama seperti ini, hal itu akan meningkatkan ketegangan dan menyebabkan protes dan konflik.” (tim/voa)
