Tengkorak burung rangkong adalah bahan pembuatan bros, belati, sarung pedang, cincin pemanah, dan ornamen pakaian (Groeneveldt, 2018: 84; Huan, 1970: 100–101). Artinya, kisah Ma Huan memperlihatkan bahwa burung rangkong bukan hanya memesona secara fisik, tetapi juga bernilai jual tinggi di pasar transnasional.
Jalur Rempah dimanfaatkan untuk mendistribusikan burung rangkong dan bagian tubuhnya. Jalur distribusinya meliputi kawasan Nusantara hingga Cina. Burung rangkong bukan hanya diperdagangkan, tetapi juga menjadi hadiah atau upeti kepada penguasa negeri lainnya. Mendapat hadiah atau upeti berupa burung rangkong, menjadi suatu kebanggaan karena dianggap sebagai burung unik nan mistis. Oleh sebab itu, arti burung rangkong juga menjadi salah satu media diplomatik antar-negeri yang dilalui Jalur Rempah.
Narasi di atas menunjukkan bahwa burung rangkong merupakan pesona Jalur Rempah sejak era Hindu-Buddha. Burung tersebut merupakan anugerah alam Nusantara yang dikagumi oleh beragam suku bangsa dan negeri. Artinya, burung rangkong sudah memesona sejak berabad-abad silam.
