Seperti diketahui, pada 20 Mei 1998, Ngarso Dalem Sri Sultan HB, Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, bersuara terkait reformasi. Reformasi muncul saat itu karena masyarakat Indonesia tunduk pada pemerintahan yang otoriter, media ditindas, dan pertemuan publik dilarang.
“Sultan pun ikut berjuang di ranah publik. Saat itu masyarakat marah pada situasi KKN dan Pemerintah sentralitas bukan otonomi daerah. Hingga akhirnya bisa berubah seperti sekarang ini,” tambahnya.
Namun saat ini, permasalahan seperti mahalnya bahan pokok, mahalnya pupuk, dan korupsi kembali menjadi kekhawatiran masyarakat. Dan kini sejarah sekali lagi memberi isyarat untuk berada di sini dan menyaksikannya sampai akhir.
“Dari waktu ke waktu pemerintah sebenarnya telah memperbaiki. Dan rakyat itu ingin dituntaskan, itu PR bersama-sama,” tambahnya.
Ganjar Pranowo menggarisbawahi, apapun akan terwujud jika keinginan masyarakat tidak dihalangi. Pada akhirnya akan sampai di muara, seperti air yang bergerak.
Namun, ia menekankan bahwa menentang hukum bukanlah cara untuk memenangi pertarungan ini.
