Di sisi lain, Prof. Robert menyoroti potensi luar biasa mikroalga sebagai tanaman yang sangat efisien dalam menangkap energi matahari untuk menghasilkan lipid. Mikroalga mengandung metabolit primer seperti lipid, karbohidrat, dan protein, serta metabolit sekunder seperti vitamin dan antioksidan. Keunikan ini membuat mikroalga menjadi input yang sempurna untuk memajukan industri simbiosis.
Mikroalga menarik karena memiliki produktivitas tinggi, kandungan minyak mencapai 20-60 persen, dan mampu menghasilkan 20 ribu – 50 ribu liter minyak per hektare per tahun. Produksi ini jauh melampaui kelapa sawit yang hanya mencapai 6 ribu liter minyak per hektare per tahun.
“Keuntungan lainnya adalah mikroalga tumbuh di atas air laut, memanfaatkan nutrisi sisa seperti CO2, N, dan P, serta menghasilkan produk sampingan yang memiliki nilai tambah, seperti pati dan protein. Hal ini memberikan solusi inovatif tanpa harus bersaing untuk sumber daya alam dengan organisme lain,” ujarnya.
Pada akhir presentasinya, Prof. Robert memberikan gambaran tentang masa depan bioindustri di Indonesia. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah, seperti lahan pertanian dan wilayah pesisir, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pusat bioekonomi di tingkat regional dan global. (tim / itb.ac.id)

