Sementara, dari sudut budaya digital, Direktur Mudyk Institute Riyanto menyebut ihwal perlunya terus menjaga Pancasila, Bhineka Tunggal Ika serta ajaran agama sebagai tuntunan etika dan panutan dalam berinteraksi di dunia nyata dan digital.
”Mari, selalu menghindari pemanfaatan internet secara negatif seperti perundungan, ujaran kebencian, hoaks, perjudian, bahkan kejahatan penipuan secara online. Kalau sampai ketemu, pastikan stop dengan jari kita,” tutup Riyanto, yang juga dosen bisnis digital di Universitas Jambi.
Untuk diketahui, diskusi “chip in” seperti dihelat di Tanjab Barat ini merupakan bagian dari program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). GNLD adalah salah satu upaya untuk mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan dan kelompok masyarakat menuju Indonesia yang #MakinCakapDigital.
Hingga akhir 2023, tercatat sebanyak 24,6 juta orang telah mengikuti program peningkatan literasi digital yang dimulai sejak 2017. Kegiatan ini diharapkan mampu menaikkan tingkat literasi digital 50 juta masyarakat Indonesia sampai dengan akhir 2024.
