“Selama ini memang yang ngambil uangnya itu dari pihak koperasi, pengelola lokbin sendiri nggak ada yang pernah ngambil uang harian,” bebernya.
Selain maraknya pungli, di Lokbin Munjul itu, lanjutnya, beberapa oknum juga kerap menjual kios ke pedagang lain. Satu kios yang dijualnya itu dibanderol dengan harga Rp13 juta dan nantinya mendapatkan tempat jualan berukuran 3×3 meter.
“Nanti tiap tahun suruh bayar lagi Rp6 juta, alasannya untuk perpanjangan,” ungkap dia.
Dikatakannya, kendati setiap hari harus memberikan sejumlah uang, namun kondisi Lokbin Munjul masih sangat memprihatikan, tidak ada perubahan perbaikan sama sekali. Yang ada dan faktanya, bila setiap hujan turun, kawasan itu becek dan membuat pembeli tidak mau datang.
“Ini cuma ngambilin uang dari pedagang saja, sedangkan area lokbin tidak diurus dan jika hujan becek semua, kotor dan kumuh. Harusnya ditata dengan baik ya Pak,” keluh WN.
Karena kumuh dan kotornya area lokbin, sambung WN, hal itu menyebabkan omzet penjualan para pedagang menurun drastis. Tempat yang berjualan yang tidak terawat mengakibatkan pembeli jadi sungkan datang belanja.
