Peneliti yang terlibat adalah dua siswi kelas IX bernama Fathi Zahiya (14) dan Nur Maisyah Ilmira (14). Temuannya menjadi salah satu finalis di ajang Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) 2024 yang digelar Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis)di Ternate, Maluku Utara, 3-7 September 2024.
Di ajang Expo MyRes di Hotel Bela Ternate (5/9/2024), salah satu peneliti, Fathi Zahiya menjelaskan, otak manusia memiliki gelombang alfa, beta, delta, gama, dan theta. Gelombang-gelomang itu dapat dideteksi dari permukaan otak dengan alat yang bernama elektroensefalografi (EEG) yang dapat mengukur amplitudonya.
Menurut Fathi Zahiya, pada penderita disleksia, selalu gelombang beta dan gama-nya tidak beraturan. “Dari sini saja sudah dapat disimpulkan bahwa obyek mengalami gangguan disleksia,” kata siswi cantik ini. Simpulan ini kemudian diuji dengan metode epoch selama 20 kali, dan akurasinya seratus persen.
Selama ini orang tua yang memiliki anak disleksia akan datang ke psikolog untuk melakukan serangkaian uji. Biasanya psikolog akan mengamati tanda-tanda umum, seperti kesulitan baca tulis, mengingat warna, kesulitan memahami tata bahasa, sulit mengucapkan kata yang baru dikenal, dan lamban memahami sesuatu. Kemudian psikolog memberikan soal ujian yang terbagi dalam beberapa tahap.
