Setelah hasilnya dianalisa, baru ditarik simpulan final dalam waktu 10 hari. “Proses ini cukup melelahkan dan terkadang tidak diteruskan hingga tuntas,” lanjutnya.
Di tangan dua siswi MTsN 2 Kota Surabaya ini, deteksi disleksia langsung diketahui secara instan. Caranya dengan menempelkan beberapa sensor di kepala anak yang dites, kemudian dibaca dengan alat elektroensefalografi (EEG) tadi. Hasilnya akan menunjukkan grafik semua gelombang otak secara terperinci dalam skala amplitudo. “Jadi setelah dites langsung keluar hasilnya, dengan hasil skor yang akurat,” kata Fathi Zahiya.
Menurut guru pembimbingnya, Vira Wardati, metode ini belum dipakai oleh para psikolog. “Sampai saat ini belum ada aplikasi alat ini untuk deteksi disleksia. Para psikolog masih menggunakan tes manual,” jelasnya. Perangkat ini disiapkan dalam dua bulan oleh Tim MTsN 2 Kota Surabaya dengan biaya sebesar Rp5 juta.
Alat ini hanya detektor, bukan untuk terapi. Tetapi penting artinya bagi penderita disleksia agar dapat dideteksi sejak dini sehingga pengobatannya lebih mudah dan perlakuannya lebih tepat. Disleksia dapat diterapi secara dini dan lebih besar peluang berhasilnya secara tuntas. Intervensi dini dapat membantu anak-anak disleksia menjadi pembelajar yang terampil.
