Menariknya, robot ini tidak hanya ada di rumah sakit, tetapi juga di pusat perbelanjaan, sekolah, dan kantor. Selama pandemi COVID-19, robot ini bahkan ditunjuk sebagai duta dari Sekretariat Kabinet Jepang.
“Dalam penelitian ini, kami menciptakan situasi di mana robot berinteraksi dengan orang-orang dalam dua skenario, yaitu percakapan dan olahraga. Robot ini dapat mengeluarkan suara dan melakukan gerakan yang dapat diikuti oleh para lansia saat berolahraga,” jelas Feni.
Namun, penting untuk dicatat bahwa interaksi robot ini belum sepenuhnya independen. Masih diperlukan staf dengan kompetensi teknologi untuk mendukung penggunaannya.
“Meskipun penggunaan robot memberi banyak manfaat, terdapat kekhawatiran terkait sifat robot yang mendekati sifat manusia. Oleh karena itu, penting untuk mencegah hal-hal yang tidak nyaman dalam pembuatan robot di masa depan,” tuturnya.
Selain robot, teknologi lain yang digunakan dalam merawat lansia di Jepang adalah drone yang dioperasikan dengan pelacakan mata. Teknologi ini memungkinkan pasien yang tidak dapat keluar dari rumah sakit untuk merasakan situasi dunia nyata secara real-time.
