Pendekatan berbasis malnutrisi, sambung Indi, juga menjadi elemen kunci yang tidak boleh diabaikan. “Pendekatan malnutrisi yang personal dan proaktif dapat menjadi solusi untuk membantu mencegah malnutrisi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mendukung proses pemulihan lansia,” tuturnya.
Selain itu, integrasi teknologi dalam penanganan kesehatan tidak hanya mampu meningkatkan efektivitas pelayanan, tetapi mengurangi beban kerja tenaga kesehatan dan biaya pengobatan. “Hal ini dapat diterapkan mulai dari tingkat pelayanan primer seperti Puskesmas hingga fasilitas kesehatan rujukan,” tambah Indi.
Indi menegaskan komitmennya untuk terus mendukung inovasi di bidang kesehatan lansia. “Kami percaya bahwa kolaborasi antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan merupakan kunci untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan lansia,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Direktur Utama RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG), Ida Bagus Sila Wiweka. Ida Bagus menyampaikan bahwa ilmu kedokteran geriatri, yang mempelajari berbagai aspek kesehatan pada usia lanjut, semakin berkembang pada dekade ini.
