Hadis lain dari riwayat an-Nasai juga menguatkan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, meskipun tidak secara penuh.
لقد كانَت إحدانا تُفطِرُ في رَمضانَ ، فما تقدرُ على أن تقضيَ حتَّى يدخلَ شعبانُ ، وما كانَ رسولُ اللَّهِ يصومُ في شَهْرٍ ما يصومُ في شعبانَ ، كانَ يصومُهُ كُلَّهُ إلَّا قليلًا بل كانَ يصومُهُ كُلَّهُ
“Salah satu dari kami biasa berbuka di bulan Ramadan, dan tidak mampu untuk mengqadha puasa tersebut hingga masuk bulan Sya’ban. Rasulullah tidak berpuasa di bulan mana pun seperti yang beliau berpuasa di bulan Sya’ban, beliau berpuasa sepanjang bulan itu kecuali sedikit.”
Berdasarkan dua riwayat ini, Rasulullah melakukan puasa di bulan Sya’ban dengan dua metode. Pertama, beliau kadang berpuasa sebulan penuh. Kedua, beliau kadang tidak berpuasa penuh, tetapi tetap lebih banyak dibandingkan bulan-bulan lain.
Dengan pendekatan jam’u wa at-taufiq (kompromi antara dalil-dalil yang tampak berbeda), maka dapat disimpulkan bahwa seorang muslim boleh menjalankan puasa di bulan Sya’ban dengan dua pilihan:
- Berpuasa sebulan penuh seperti yang pernah dilakukan Rasulullah.
- Memperbanyak puasa tanpa harus sebulan penuh, misalnya dengan puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, atau bahkan puasa Dawud.
Namun, penting untuk dicatat bahwa memperbanyak puasa di bulan Sya’ban tidak berarti menciptakan aturan baru, seperti mewajibkan puasa selama sepekan penuh tanpa dalil yang jelas. Praktik ini berisiko mengada-adakan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah.
