“Barang yang diadakan tidak digunakan. Banyak proyek yang fiktif dan tidak sesuai kontrak. Setelah saya menjabat kembali, tidak ada lagi ruang untuk praktik korupsi. Karena itulah, dia mulai melancarkan kritik yang tendensius dan tidak berdasar,” bebernya.
Meskipun menghadapi tekanan dan lobi dari berbagai kalangan agar bersikap lunak, Amran menolak dengan tegas.
Ia menyebut sikap tersebut sebagai bentuk keberpihakan kepada rakyat, dan bukan sekadar persoalan pribadi yang dapat diselesaikan dengan pengampunan tanpa adanya pertanggungjawaban hukum
“Dan ada yang melobi saya untuk dimaafkan. Gak, Itu atas nama rakyat. Bukan atas nama menteri. Gak. Saya katakan gak (maafkan),” ucapnya.
Amran juga menegaskan kesiapan menerima segala risiko dari penolakan terhadap lobi tersebut, karena baginya yang diperjuangkan adalah keadilan bagi petani dan kepentingan bangsa secara keseluruhan.
“Kalau memang harus ada risikonya, aku yang terima. Tapi kami sudah siap segala sesuatu risikonya demi rakyat Indonesia, demi petani Indonesia,” katanya.
